Keimanan dan kejujuran
Sesungguhnya keimanan dan kejujuran selalu berjalan beriringan. Keimanan tidak akan dapat bersatu dengan dusta. Rasulullah SAW pernah ditanya, ”Apakah mungkin seorang mukmin itu pengecut?” Lalu dijawab, ”Mungkin.” Lalu ditanyakan lagi, ”Apakah mungkin seorang mukmin itu kikir?” Lalu dikatakan, ”Mungkin.” Lalu ditanyakan lagi, ”Apakah seorang mukmin itu berdusta?” Lalu dijawab, ”Tidak mungkin.” (HR Imam Malik)
Keimanan seseorang dapat dilihat dari perilakunya. Orang yang mengaku beriman dan rajin melaksanakan rukun Islam dan orang tersebut jujur dalam tindakannya baru dapat dikatakan orang tersebut beriman. Akan tetapi, walaupun orang itu mengaku beriman dan rajin melaksanakan rukun Islam, tetapi dalam ucapan dan tindakannya tidak jujur, maka dapat dipastikan orang tersebut tidak beriman, karena keimanan dan ketidak jujuran tidak dapat berada dalam satu kalbu.
Jadi dapat disimpulkan bahwa orang yang tidak jujur, baik itu tidak jujur lisannya apalagi tidak jujur dalam tindakannya dapat dipastikan orang tsb. tidak beriman.
Orang yang tidak beriman segala ibadahnya tidak akan diterima oleh Allah SWT